Candi Pawon

wisata pulau di indonesia - pulau pagang

Sewa Mobil di Bali

Pawon

Pawon (dikenal sebagai Candi Pawon) adalah candi Budha di Jawa Tengah, Indonesia. Terletak di antara dua candi Budha lainnya, Borobudur (1,75 km (1,09 mil) ke timur laut) dan Mendut (1,15 km (0,71 mi) ke barat daya), Pawon terhubung dengan dua kuil lainnya, yang kesemuanya dibangun selama Sailendra dinasti (abad ke-8-9). Memeriksa detail dan corak ukiran candi ini sedikit lebih tua dari Borobudur.

Tiga candi itu terletak pada garis lurus, menunjukkan ada makna simbolis yang mengikat candi-candi ini.

Lokasi candi Buddha triad: Borobudur-Pawon-Mendut dalam satu garis lurus.

Candi Pawon, 1900.

Relief pohon Kalpataru di dinding luar.
“Antara Candi Mendut dan Borobudur berdiri di pura Pawon, sebuah permata arsitektur candi Jawa. Kemungkinan besar candi ini berfungsi untuk memurnikan pikiran sebelum mendaki Borobudur.”

Nama asli tempat suci Buddha ini tidak pasti. Pawon secara harfiah berarti “dapur” dalam bahasa Jawa, yang berasal dari akar kata awu atau debu. Sambungan dengan kata “debu” juga menunjukkan bahwa kuil ini mungkin dibangun sebagai makam atau kuil untuk seorang raja. [3] Pawon dari kata Per-awu-an (tempat yang berisi debu), sebuah kuil yang menampung debu raja kremasi. Namun siapa tokoh yang dikuburkan disini masih belum diketahui. Orang-orang lokal menamai candi ini sebagai “Bajranalan” berdasarkan nama desa. Bajranalan berasal dari kata Sansekerta Vajra (guntur atau juga alat seremonial Budha) dan Anala (api, api).

Di era kontemporer pada bulan purnama di bulan Mei atau Juni, umat Budha di Indonesia mengamati ritual tahunan Waisak dengan berjalan kaki dari Mendut melewati Pawon dan berakhir di Borobudur.

Arsitektur
Kuil sedikit menghadap ke barat laut dan berdiri di atas dasar persegi. Masing-masing sisi tangga dan bagian atas gerbang dihias dengan ukiran Kala-Makara, yang biasa ditemukan di kuil-kuil klasik Jawa. Dinding luar Pawon diukir dengan relief boddhisattva dan taras. Ada juga relief kalpataru (pohon kehidupan), diapit antara Kinnara-Kinnari. Ruang persegi di dalamnya kosong dengan baskom persegi di tengahnya. Jendela kecil rectangular ditemukan, mungkin untuk ventilasi.

Bagian atapnya dinobatkan dengan lima stupa kecil dan empat ratnas kecil. Karena kesederhanaan, simetris dan harmoni relatifnya, sejarawan yang dijuluki kuil kecil ini adalah “permata arsitektur kuil Jawa”, berbeda dengan alis gaya Jawa Timur langsing yang populer di masa Singhasari dan Majapahit.

Sewa Motor di Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *